Ikan Sekolam

Rabu, 7 Desember 2022 10:44 WIB

Share
Prof Sudjarwo (Foto Pribadi/Poskota Lampung)
Prof Sudjarwo (Foto Pribadi/Poskota Lampung)

Oleh Prof Sudjarwo*


Sore itu, selesai olahraga rumahan dengan menjadi “pembantu dadakan”, keringat sedang bercucuran, membaca media sosial ada berita masuk. Ternyata dari seorang alumni yang merasa prihatin dengan lembaganya yang baru saja kena sunami sosial, dan lebih prihatin lagi dengan direncanakannya pemilihan pimpinan baru oleh anggota dari suatu lembaga yang pernah memilih dengan hasil seperti saat ini.

Kekhawatiran itu sah sah saja sebagai bentuk kecintaan alumni pada almamaternya. Dengan dalih itu pula, mereka berhimpun dan mengamati jalannya demokrasi yang sedang berproses di dalam rumahnya. Mereka berasumsi bahwa manakala calon berasal dari kelompok yang sama, apalagi jumlahnya cukup banyak, maka diduga mereka akan melakukan aksi saling menutupi dosa berjamaah yang mereka lakukan sebelumnya, jika terpilih menjadi pimpinan tertinggi lembaga ini. 

Untuk mendapatkan analisis yang obyektif, mari kita ambil jarak guna menemukenali persoalan secara benar. Demi menjaga obyektifitas dan kesantunan dalam berwarta; maka analisis ini menggunakan diksi-diksi langit; sehingga mereka yang mau berfikir saja yang mampu menangkap pesan moral yang disampaikan.

Pertama, jika dalam satu kolam ikan, tentu peluangnya bisa jadi berjenis sama atau beragam jenis; namun secara bersamaan ikan-ikan tadi menghirup atau menikmati air yang sama. Oleh karena itu bisa jadi jika ikan itu sejenis, maka perilaku dalam air yang sama akan menunjukkan juga perilaku sama. Namun jika jenis ikan yang berbeda, tentu reaksi perilaku akan menunjukkan perbedaan. Tinggal seberapa jauh perbedaan tadi, apakah menunjukkan tingkat signifikansi atau tidak, atau malah menjadi serupa tapi tak sama.

Kedua, jika dalam satu kolam, ada beragam jenis ikan, dan salah satu jenis ikan itu menjadi pemangsa, maka semua ikan itu akan musnah, kecuali jenis yang lain juga ikut menjadi pemangsa; sehingga ada semacam persaingan antarmereka. Di sini berlaku hukum alam “siapa yang kuat, dia yang menang”; dan tentu saja hukum adu kuat di sini berlaku.

Ketiga, ada kolam lain yang berbeda sama sekali jenis ikannya; perbedaan ini bisa dari jenis, bisa dari segi kualitas dan entah apalagi parameternya. Tentu saja karena jenis yang berbeda, tentu menunjukkan perilaku yang berbeda. Oleh karena itu ikan yang berjenis kolam ketiga ini, tidak bisa dimasukkan ke dalam kolam pertama, maupun ke dua; sebab jika digabungkan akan terjadi saling serang.

Jika kita harus memilih ikan dari ketiga kolam di atas; tentu tidak bisa serta merta kita melakukannya; karena kita harus menetapkan terlebih dahulu parameter ikan jenis apa yang akan kita perlukan. Jika kita menginginkan ikan yang bebas dari konflik kepentingan, maka ikan di kolam ketiga yang kita prioritaskan. 

Namun jika kita menginginkan ikan yang beperilaku “giras” (bahasa Jawa = lincah yang cenderung liar), kolam kedua. Selanjutnya jika kita menginginkan ikan yang cenderung berperilaku sama, sekalipun dari jenis yang berbeda; maka ikan kolam pertama yang akan kita pilih. 

Sebagai subyek yang dipilih itu tidak terlalu penting; justru yang paling penting adalah si pemilihnya, sebab kreteria yang dipilih sudah ditetapkan, manakala pemilihnya tidak memiliki kemampuan menemukenali yang dipilih, maka sia-sialah semua itu. 

Halaman
Editor: Bila
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar