Babak 8 Besar Piala Dunia 2022 Tanpa Wakil Asia

Rabu, 7 Desember 2022 10:16 WIB

Share
Gino Vinellie (Foto Pribadi/Poskota Lampung)
Gino Vinellie (Foto Pribadi/Poskota Lampung)

Oleh Gino Vinellie*

Setelah melalui babak 16 besar yang begitu seru dan menegangkan, 8 tim berhasil lolos untuk melangkah ke bapak perempat final. Benua Eropa mendominasi dengan 5 wakilnya yaitu Belanda,  Prancis, Inggris, Finalis 2018 Kroasia dan terakhir Portugal. Benua Amerika diwakili Argentina, dan Brasil, sedangkan Afrika menyisakan Maroko, yang tampil luar biasa dan berhasil memulangkan Spanyol. Tak ada satupun  wakil dari Asia.

Sebagian besar tim yang lolos sesuai prediksi dari awal yaitu tim tim unggulan yang miliki rekam jejak luar biasa. Jepang yang tampil luar biasa di babak fase group dengan mengalahkan 2 tim langganan Juara Dunia Jerman dan Spanyol, harus menerima kekalahan menyakitkan dari Kroasia melalui babak adu pinalti. 

Tidak adanya wakil Asia di bapak 8 besar, tentu menyedihkan. Australia yang sejak 2004 sudah bergabung di Asia juga bernasib sama dengan Jepang.

Nihilnya wakil Asia dibabak Perempatfinal  layak untuk ditelisik lebih dalam. Dalam gelaran Piala Dunia yang terdahulu, memang prestasi tim tim Asia belum mampu menyaingi prestasi tim Eropa,  Amerika dan juga Afrika. Walau demikian, beberapa Tim Asia mampu membuat kejutan. Korsel pada saat menjadi tuan rumah  gelaran Piala Dunia 2002, mampu tampil menggebrak dan berhasil melangkah jauh hingga babak Semifinal. Selebihnya tim tim Asia memang lebih banyak tereliminasi di fase group.

Tentu ada beberapa faktor yang membuat tim tim Asia sulit menembus dominasi Eropa, Amerika dan Afrika. Pertama, dari segi fisik secara umum tim Asia tertinggal, kalah bersaing dengan tim dari benua lainnya. Rata rata tinggi pemain Asia terpaut jauh dengan mereka. Hal ini terlihat sangat nyata saat Jepang berhadapan dengan Kroasia. Tampak pemain pemain Samurai Biru sulit bersaing diperebutan bola bola atas.

Kedua, tradisi dan kultur  bola. Perlu dicatat bahwa olahraga sepakbola lahir di Inggris, sehingga lebih dulu berkembang di Eropa, kemudian menyebar ke Amerika, ke Afrika baru kemudian dibawa oleh para penjajah Eropa sampai ke Asia. Wajar kalau sepakbola Asia relatif masih tertinggal.

Ketiga faktor penerapan Sport Science. Pengembangan ilmu dan teknologi dalam olahraga khususnya sepakbola, di Eropa dan Amerika sudah jauh lebih maju dan unggul. Penerapan sport science sudah menjadi standart dan tradisi dalam pencarian bakat, pengembangan fisik, skil,  teknik, taktik dan strategi serta analisis pertandingan. Sementara di Asia baru beberapa negara yang sudah menerapkannya, tetapi secara umum nampaknya belum menjadi prioritas. Afrika walau agak tertinggal dalam pengembangan Sport Science, tapi memiliki keunggulan komparatif dalam hal bakat alam, fisik dan juga terpaan alam yang keras. Keberhasilan Maroko menembus babak perempatfinal, tidak bisa dilepaskan dari usaha mereka untuk mengambil jalan "pintas" dengan begitu banyak menaturalisasi pemain pemain Eropa. Kita tahu, hampir sebagian besar squat inti timnas Maroko adalah pemain naturalisasi.

Ke empat adalah faktor iklim kompetisi. Kualitas kompetisi Eropa, Amerika dan juga Afrika relatif lebih baik dan berkualitas dibanding kompetisi yang ada di negara negara Asia. Benar bahwa beberapa negara Asia seperti Iran, Jepang, Arab Saudi, Korsel, Ubekistan dan juga Qatar sudah mampu menjalankan kompetisi domestik secara baik, tetapi sebagian besar negara Asia lainnya masih relatif tertinggal.

Kelima tentu keberadaan pelatih berkualitas dan potensi pemain yang berlimpah. Di Eropa , Amerika dan Afrika ketersediaan pelatih berkualitas berlimpah. Tidak sulit mencari pelatih berkualitas sesuai kualifikasi yang dibutuhkan. Sementara di Asia nampaknya justru sebaliknya. Terbukti hampir semua timnas dan klub klub terbaik di Asia dilatih oleh pelatih dari Eropa maupun Amerika. Sebuah fakta yang nyaris tak terbantahkan. Selain itu, jumlah pemain sepakbola Eropa, Amerika dan juga Afrika begitu berlimpah. Kompetisi di beberapa negara sampai level 4 bahkan 5. Pembinaan usia dini mereka juga sudah berjalan dengan sangat baik, karena setiap klub punya kewajiban membina tim usia dini melalui akademi klub masing masing.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar