Samsul Arifin Rencana Gugat Class Action Senat Unila dan KPK Terkait Asep Sukohar

Selasa, 6 Desember 2022 11:46 WIB

Share
Samsul Arifin (Foto Poskota Lampung)
Samsul Arifin (Foto Poskota Lampung)

LAMPUNG.POSKOTA.CO.ID -- Samsul Arifin, alumni Unila, berencana melakukan gugatan "class action" terhadap Senat Unila yang tertutup dan gagal menyeleksi rektor. Dia juga berencana akan menggugat KPK RI.

"Rasional atau tidak jika sekumpulan orang yang sama yang telah memilih Karomani sebagai rektor Unila yang ternyata tertangkap KPK diperbolehkan lagi memilih rektor Unila? Bagaimana tanggung jawab moralnya?" ujarnya.

"Rasional atau tidak jika Asep Sukohar yang diduga melakukan perbuatan yang sama dengan Heryandi kemudian terpilih menjadi rektor Unila?" tanyanya lagi.

KPK terkesan enggan menyidik Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Prof Asep Sukohar seperti halnya terhadap Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi.

Dalam peristiwa pidana tersebut, apakah KPK RI sedang mempermainkan dan melindungi "tiki-taka" "whistle blower"? tanyanya kepada Poskota Lampung, Selasa (6/12/2022). 

Menurut dia, langkah-langkah hukum tersebut kemungkinan terpaksa ditempuh karena juga terkesan tidak adanya keseriusan dari Kemendikbud, KPK, IKA Unila, bahkan mahasiswa agar Unila memiliki rektor yang bersih.

Unila membutuhkan pemimpin yang mampu merehabilitasi lembaganya dari penyakit koruptif yang ganas, memalukan, dan merusak moral mahasiswanya, kata alumni Unila yang berprofesi sebagai advokat.

Samsul Arifin mengatakan prihatin dengan IKA Unila yang tak sedikit pun menyikapi carut-marut pengelolaan Unila selama dipimpin Rektor Nonaktif Unila Prof Karomani. "Mungkin karena wadah para alumni itu dipimpin pejabat yang juga masih aktif," katanya. 

Alumni Unila yang sempat mengenyam pendidikan di FP, FE, FH, serta FISIP Unila ini juga terdorong oleh sunyi-senyapnya mahasiswa yang tiba-tiba terkesan mandul kekritisannya dalam menyikapi masalah memalukan yang dilakukan para profesornya.

"Entahlah, diamnya mahasiswa Unila apakah karena sibuk ujian, KKN, atau karena "ditidurkan" sejak Karomani yang antidemokrasi dan kebebasan kampus itu berkuasa?" tanyanya. 

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar