Terus Bertambah, KPK Panggil Pejabat, Wakil Rakyat, Hingga Pengusaha Tenar

Rabu, 23 November 2022 12:25 WIB

Share
M Khadafi, Musa Ahmad, Thomas Riska (Foto Net/Poskota Lampung)
M Khadafi, Musa Ahmad, Thomas Riska (Foto Net/Poskota Lampung)

LAMPUNG.POSKOTA.CO.ID -- KPK RI terus memeriksa saksi-saksi terkait dugaan suap penerimaan mahasiswa baru Unila 2022 di Gedung Merah Putih, Jakarta, Rabu (23/11/2022). Kali ini, mereka yang diperiksa adalah para kepala daerah, politisi, dan pengusaha terkenal.

Mereka adalah Bupati Lamteng Musa Ahmad, Bupati Lampung Timur Dawam Rahardjo, anggota DPR RI Farksi PKB M. Khadafi, politisi senior Alzier DT, dan pemilik Tegal Mas Thomas Aziz Riska. Mereka para kepala daerah, politisi, dan pengusaha terkena.

Selasa (22/11/2022), KPK telah memanggil kembali Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Universitas Lampung (Unila) Asep Sukohar ke Gedung KPK, Jl. Kuningan Persada Kav.4, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Saksi lainnya, yakni Radityo Prasetianto Wibowo (dosen Departemen Sistem Informasi Institut Teknologi Seputi), Jaka Adiwiguna (PNS), Ir. H. Mahfud Santoso dan Sihono (PNS), kata Juru Bicara KPK Ali Fikri.

Sebelumnya,  KPK yang telah menetapkan empat tersangka dalam kasus ini, tiga orang selaku penerima suap, yakni KRM, Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi (HY), dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri (MB). Sementara itu, pemberi suap adalah pihak swasta Andi Desfiandi (AD).

Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan bahwa KRM yang menjabat sebagai Rektor Unila periode 2020—2024 memiliki wewenang terkait dengan mekanisme Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) Tahun Akademik 2022.

Selama proses Simanila berjalan, KPK menduga KRM aktif terlibat langsung dalam menentukan kelulusan dengan memerintahkan HY, Kepala Biro Perencanaan dan Humas Unila Budi Sutomo, dan MB untuk menyeleksi secara personal terkait dengan kesanggupan orang tua mahasiswa.

Apabila ingin dinyatakan lulus, calon mahasiswa dapat "dibantu" dengan menyerahkan sejumlah uang, selain uang resmi yang dibayarkan sesuai mekanisme yang ditentukan kepada pihak universitas.

Selain itu, KRM juga diduga memberikan peran dan tugas khusus bagi HY, MB, dan Budi Sutomo untuk mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati dengan pihak orang tua calon mahasiswa baru.

Besaran uang itu jumlahnya bervariasi mulai dari Rp100 juta sampai Rp350 juta untuk setiap orang tua peserta seleksi yang ingin diluluskan.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar