Para Tokoh Kritis Nasional Rasakan Duren Lampung di Rumah Aktivis Merry

Selasa, 27 September 2022 08:42 WIB

Share
Gunawan Pharikkesit menemani para tokoh kritis nasional menikmati rasanya duren Lampung (Foto Poskota Lampung)
Gunawan Pharikkesit menemani para tokoh kritis nasional menikmati rasanya duren Lampung (Foto Poskota Lampung)

LAMPUNG.POSKOTA.CO.ID -- Sidang ketujuh aktivis perempuan Bunda Merry "ramai" dihadiri para tokoh nasional yang selama ini dikenal kritis dan sering dinilai suka "menggelitik" kekuasaan sehingga ada yang sempat beririsan dengan hukum.

Mereka juga tampak akrab, egaliter, tak arogan dan sombong selama di Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Berbeda ketika sedang mengkritisi kebijakan pemerintah. Di rumah Bunda Merry, mereka mencicipi duren Lampung.

Para tokoh tersebut antara lain Dr. Refly Harun (pakar Hukum Tata Negara dan perundang-undangan ini menjadi Saksi Ahli untuk Bunda Merry). Dia juga pernah ditunjuk oleh Mahfud MD sebagai ketua Tim Anti Mafia Mahkamah Konstitusi. 

Sebelumnya Refly aktif sebagai staf ahli salah seorang hakim konstitusi dan juga pernah sebagai konsultan dan peneliti di Centre of Electoral Reform (CETRO).

Edy Mulyadi adalah jurnalis senior yang menginvestigasi Tragedi KM 50 Laskar FPI dan sempat keserimpet pernyataannya tentang lokasi IKN yang menurutnya tempat jin buang anak).

Dr. Hehamahuwa adalah mantan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bersama 11 orang lainnya pernah mengajukan gugatan permohonan uji formil UU Ibu Kota Negara (IKN). Dia juga bergabung dalam Poros Nasional Kedaulatan Negara (PNKN). 

Babe Aldo adalah aktivis dan youtuber yang sempat viral atas sikapnya menolak keras vaksinasi Covid-19 . Dia sempat menantang Kemkes RI untuk mengajak berdialog secara terbuka membahas tentang Covid-19. Babe menilai program vaksinasi ini terlalu dipakskan.

Mereka hadir sebagai saksi ahli, penjamin, dan sekadar ekspresi memberi semangat Bunda Merry dalam perjuangan menghadapi sidang lanjutannya di Pengadilan Negeri Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Senin (26/9/2022).

Refli Harun menyarankan jaksa penuntut Umum (JPU) membuat tuntutan berisi membebaskan Bunda Merry karena tak pantas penerapan pasal 76 H jo pasal 87, Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Dalam persidangan, Refly Harun mengatakan dalam perkara pidana itu harus jelas dan tegas dan tidak boleh multi tafsir. Hal itu berkaitan dengan hak perorangan yang dikenakan.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar